Satu Yang Selalu “Hangat” Dibicarakan
Menjelang malam disaat pulang kerja, istriku bercerita tentang satu topik obrolan yang lumayan "hangat" yang terjadi disaat istriku sedang makan siang. Poligami, satu topik yang selalu ramai dan menarik untuk menjadi bahan obrolan. Tapi jujur saja saya secara pribadi takut lidah ini salah berucap seandainya ada yang mengajak berbicara tentang satu topik ini karena bagaimanapun juga topik yang satu ini lumayan "panas" dan bsa memancing perdebatan tanpa akhir.
Istriku inilah pendapatku tentang poligami :
Yang pertama :
Poligami itu hukumnya boleh, bukan wajib. Jadi untuk melakukannya lelaki harus memiliki pertimbangan yang sangat matang dan tujuan yang jelas untuk apa dia berpoligami. Jangan sampai untuk melakukan yang boleh malah menelantarkan yang wajib.
Yang ke dua :
aa’ pernah mendengar seorang ulama mengatakan :
"Poligami boleh dilakukan apabila tidak mengganggu kesakinahan keluarga yang ada, seandainya akan menganggu kesakinahan keluarga yang ada lebih baik poligami tidak dilakukan"
dan aa’ sangat setuju dengan pendapat ulama tersebut. Karna bagaimana mungkin seorang lelaki yang konon memiliki niat mulia dalam berpoligami malah yang terjadi adalah suatu kehancuran dan keretakan pada keluarga sebelumnya, bukankah niat mulianya menjadi tidak ada nilainya?
Begitu banyak Ulama yang secara lantang membela aturan poligami, tetapi beliau-beliau ini tidak melakukannya, mengapa? bukan karna mereka takut kehilangan jama’ah atau takut dengan istri-istrinya tetapi mereka memiliki pertimbangan yang begitu luas dan matang.
Yang ke tiga :
Terkadang aa’ miris disaat mendengar dengan mudahnya alasan lelaki berpoligami untuk mengikuti sunnah nabi, sementara mereka tidak total dalam melakukannya. Mereka hanya mengikut sunnah dari sisi jumlah, sementara kualitas pernikahannya mereka telantarkan. Disinilah letak mengapa banyak orang yang menghinakan poligami, padahal aturan ini tidak mungkin ada seandainya tidak ada kemuliaan didalamnya.
Yang ke empat :
Disaat kita tersayat pisau dan terluka, siapakah yang salah? Pisaukah? atau justru orang yang memegang pisau itu yang harus dipersalahkan.
Begitu juga poligami, aa’ yakin aturan ini memiliki kemuliaan tetapi orang-orang yang melakukan tanpa pertimbangan yang matang lah yang menjadikan aturan ini begitu dicibir dan dihinakan.
Istriku, ini hanya pendapat pribadi aa’ dengan semua kebodohan yang aa’ miliki.
















