Pena Diatas Kertas Putih

January 11, 2007

Layaknya memasuki ruang ujian kita dikasih selembar kertas putih yang masih bersih tanpa ada setitik pun tinta diatasnya, lalu kita pun dikasih pena untuk menuliskan semua keinginan, harapan dan semua impian di atas kertas itu. Seperti itulah saat-saat kita akan melewati tahun yang baru, hmmm harapan baru?.

Detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari, minggu… bulan dan akhirnya kita pun bertemu dengan tahun yang berikutnya..Insya Allah.
Pakailah pena itu untuk menulis kebaikan, jangan pernah menuliskan keburukan di atas kertas itu. Biarkanlah terlihat jelas kebaikan itu diatas kertas putih itu tapi ingat hilangkan riya untuk semua kebaikan yang akan kita perbuat biarkan Allah yang melihat kebaikan itu, biarkan hanya Allah sajalah yang akan menilai berapa nilai kebaikan yang telah kita tulis diatas kertas itu.

Ingat kertas yang akan kita tulis itu begitu bersihnya, sehingga sititik noda keburukan yang kita lakukan akan cepat terlihat apalagi seandainya keburukan yang kita lakukan itu sampai menyakit hati si pembacanya akan sukar bagi kita untuk bisa dimaafkan oleh "hati yang terluka" jadi usahakanlah untuk tidak membuat titik noda didalamnya. "Maaf" yaa kata maaf haruslah selalu terucap seandainya ada khilaf yang kita perbuat, ingat,.. jangan pernah malu untuk mengucapkannya

Jangan lupa untuk menggambarkan  "icon" senyuman, agar kertas yang kita tulis itu terkesan menyejukan dan tidak membuat yang baca menjadi sebel karena  selalu melihat muka kita yang selalu masam. senyumlah, dan dunia ini pun akan tersenyum kepada kita.

Och iya jangan lupa untaikan kata-kata yang penuh dengan kelembutan, dan seandainya kita lupa apa yang akan kita perbuat bertanyalah, untuk itulah gunanya teman, untuk itulah adanya sahabat sejati, kita masih punya temankan? hmmm mungkin seandainya tak ada satupun di dunia ini yang mau menjadi teman kita kita harus berpikir apa yang telah kita lakukan sehingga semua orang begitu takut mendekat kepada kita?? Introspeksilah…

Akhirnya selamat tahun Baru 1428H,…. semoga pena ini hanya menuliskan kebaikan, Amien.

(…Maksud hati menulis kebaikan apadaya yang ada hanyalah coretan dinding, maafkan untuk semua goresan yang menyakiti hati…) 

Ramalan Sang Dukun Penipu

Mungkin sudah kebiasaan di negeri yang konon mayoritas muslim ini, ketika menyambut tahun baru semua media baik elektronik maupun cetak sibuk dengan yang namanya ramalan para dukun penipu. Dengan pandangan "spiritualnya" sang dukun itupun meramal yang akan terjadi di tahun depan dan yang lebih mengherankan yang bertanya itu bukanlah masyarakat awam melainkan seseorang yang berpendidikan (Jaman sekarang mana ada reporter lulusan SD?? S1, S2?). Dari ramalan baik sampai ramalan buruk, dari ekonomi sampai politik kasarnya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki sang dukun pun bernyanyi atas apa yang akan terjadi tahun depan, Katanya.

Apakah bangsa ini sudah kekurangan Ahli ekonomi untuk memprediksi perekonomian bangsa ini tahun depan?

Apakah bangsa ini sudah tidak memiliki lagi politikus unggul untuk memprediksi perpolitikan bangsa ini tahun depan?

Ekonom, Politikus atau apalah keilmuan mereka tentu bisa memprediksi secara ilmiah apakah bangsa ini akan bangkit dari semua kemelut dan krisis yang terjadi dengan teori sebab akibatnya tentu hal ini bisa kita terima secara akal dibandingkan "pandangan gaib" sang dukun penipu.

Dan satu yang pasti, apakah kita tidak pernah berpikir ramalan dukun penipu itu adalah perbuatan syirik? Sungguh aneh disaat kita kena musibah pun kita tidak pernah berpikir mungkin ini teguran karena kita selalu menyekutukan -Nya, malahan yang terjadi semua musibah ini selalu diramaikan dengan dukun-dukun penipu lengkap dengan atribut sesajennya.

Sekarang tahun 2007, disaat bangsa lain sibuk dengan teknologi baru masa kita terus ditipu untuk selalu mempercayai hal-hal mistis.

Yakinlah bahwa mereka Paranormal itu hanyalah sang dukun penipu…